Monday 11 March 2013

Do’a Yang Tidak Tertolak Dan Yang Menyebabkan Do’a Tertolak

Bismillahirrahmanirrahim,

“Ada tiga orang yang tidak ditolak do’a mereka: (1) Orang yang berpuasa sampai dia berbuka; (2) Seorang penguasa yang adil; (3) Dan do’a orang yang dizalimi (teraniaya). Do’a mereka diangkat oleh Allah ke atas awan dan dibukakan baginya pintu langit dan Allah bertitah, “Demi keperkasaanKu, Aku akan memenangkanmu (menolongmu) meskipun tidak segera.”
(HR. Tirmidzi)

Kalau ditelaah lagi ada kaitan yang sangat erat antara tiga criteria yang sudah dijelaskan Rasulullah diatas dalam segi social perilaku manusia.

1. Jalan orang yang tertindas

Adanya orang yang tertindas disebabkan dari adanya ke-dholiman, dan biasanya ke-dholiman dilakukan oleh mereka yang merasa lebih tinggi kedudukannya seperti halnya seorang pemimpin. Dalam situasi seperti ini orang yang didholimi secara reflek karena ketidak berdayaannya untuk melakukan perlawanan, langsung mengadukan kepada Tuhannya, dengan hancurnya martabat dan harga diri serta hati yang tersakiti maka secara kontanitas menghilangkan beberapa sifat yang membuat do’a tertolak seperti halnya tidak khusu’ ketika berdo’a atau tidak yakin dengan do’anya.

Dalam hal ini, orang yang tertindas akan berjuang keras untuk bisa terbebas dari penindasan moral atau pun yang lainnya.

Sebagaimana firman Allah:
ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ لَمْ يَكُ مُغَيِّرًا نِعْمَةً أَنْعَمَهَا عَلَى قَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ وَأَنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Yang demikian (siksaan) itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada sesuatu kaum, hingga kaum itu merubah apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”
(Q.S Al-Anfaal Ayat: 53)


2. Jalan pemimpin yang adil

Setiap kamu adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Seorang imam (amir) pemimpin dan bertanggung jawab atas rakyatnya. Seorang suami pemimpin dalam keluarganya dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Seorang isteri pemimpin dan bertanggung jawab atas penggunaan harta suaminya. Seorang pelayan (karyawan) bertanggung jawab atas harta majikannya. Seorang anak bertanggung jawab atas penggunaan harta ayahnya. (HR. Bukhari dan Muslim)

“Akan datang sesudahku penguasa-penguasa yang memerintahmu. Di atas mimbar mereka memberi petunjuk dan ajaran dengan bijaksana, tetapi bila mimbar telah turun mereka melakukan tipu daya dan pencurian. Hati mereka lebih busuk dari bangkai.”
(HR. Ath-Thabrani)

Disini ada kaitannya dengan pembahasan yang pertama, begitu beratnya beban seorang pemimpin untuk bisa bersikap adil, supaya mereka yang dipimpin tidak terdholimi dengan kepemimpinannya.
Sehingga Allah memberi tempat tersendiri kepada mereka yang bertanggung jawab dengan kepemimpinannya.

“Sesunguhnya orang-orang yang berlaku adil, kelak disisi Allah ditempatkan diatas mimbar cahaya, yaitu mereka yang adil dalam hukum terhadap keluarga dan apa saja yang dikuasakan kepada mereka.”
(HR. Muslim)

3. Jalan orang yang berpuasa

Dari Mu’adz bin Jabal radhiallahu ‘anhu, ia berkata :
Aku berkata : “Ya Rasulullah, beritahukanlah kepadaku suatu amal yang dapat memasukkan aku ke dalam surga dan menjauhkan aku dari neraka”.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menjawab, “Engkau telah bertanya tentang perkara yang besar, dan sesungguhnya itu adalah ringan bagi orang yang digampangkan oleh Allah ta’ala. Engkau menyembah Allah dan jangan menyekutukan sesuatu dengan-Nya, mengerjakan shalat, mengeluarkan zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan, dan mengerjakan haji ke Baitullah”.

Kemudian beliau bersabda : “Inginkah kuberi petunjuk kepadamu pintu-pintu kebaikan? puasa itu adalah perisai, shadaqah itu menghapuskan kesalahan sebagaimana air memadamkan api, dan shalat seseorang di tengah malam”.

Kemudian beliau membaca ayat :
تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُون
فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Kemudian beliau bersabda: “Maukah bila aku beritahukan kepadamu pokok amal tiang-tiangnya dan puncak-puncaknya?”

Aku menjawab : “Ya, wahai Rasulullah”. Rasulullah bersabda : “Pokok amal adalah Islam, tiang-tiangnya adalah shalat, dan puncaknya adalah jihad”.

Kemudian beliau bersabda : “Maukah kuberitahukan kepadamu tentang kunci semua perkara itu?” Jawabku : “Ya, wahai Rasulullah”. Maka beliau memegang lidahnya dan bersabda : “Jagalah ini”.

Aku bertanya : “Wahai Rasulullah, apakah kami dituntut (disiksa) karena apa yang kami katakan?”

Maka beliau bersabda : “Semoga engkau selamat. Adakah yang menjadikan orang menyungkurkan mukanya (atau ada yang meriwayatkan batang hidungnya) di dalam neraka, selain ucapan lidah mereka?”
(HR. Tirmidzi, ia berkata : “Hadits ini hasan shahih”)

Erat kaitannya dengan kedua pembahasan diatas, seorang yang tertindas manakala sudah berhasil menyingkirkan penindasannya namun tidak mampu menjadi seorang pemimpin yang adil ia pun akan terpuruk dan mendapat predikat sebagai penindas baru.

Disinilah peran puasa diperlukan guna sebagai perisai untuk membentingi diri dari sifat-sifat tercela yang menyebabkan terhalangnya sebuah do’a.


Dari Ibrahim bin Adham beliau memberikan penjelasan, mengapa do’a tidak terkabul:

~ Kamu akui mengenal Allah, namun hak- hak- Nya tidak kamu penuhi.
~ Kamu baca Al- Qur’an berulang kali, namun isi yang terkandung di dalamnya tidak kamu amalkan.
~ Kamu akui cinta Rasulullah SAW, namun nasehat- nasehatnya tidak kamu jalankan.
~ Kamu akui syetan itu adalah musuh manusia yang nyata, namun kamu telah patuh kepadanya.
~ Kamu sering kali berdo’a mohon dihindarkan dari siksa api neraka, namun kamu jerumuskan dirimu ke dalamnya dengan banyak berbuat dosa dan maksiat.
~ Kamu sering kali berdo’a mohon supaya bisa masuk surga, namun kamu tidak mau beramal baik untuknya.
~ Kamu percayai kematian itu pasti datang, namun kamu tidak mau mempersiapkan diri menghadapi kematian.
~ Kamu sering sibuk mengurusi aib orang lain, namun aibmu sendiri kamu lupakan.
~ Kamu makan rizqi dari pemberian Allah, namun kamu tidak mau mensyukuri pemberian itu.
~ Kamu kuburkan orang yang meninggal dunia, namun kamu tidak mau mengambil pelajaran dari peristiwa itu.

Wallahu’alam.


Sumber: Facebook
11 Mac 2013

No comments: